JOMBLO IS ME
Dahulu kala, sebelum bulu kumis tumbuh dan bulu ketek membeludak.
Tak ada perasaan seaneh ini. Perasaan yang selalu mendayung-dayung di
tepian hati. kemudian membawa tubuh berasa terbang dan meluncur bersama
hiu akrobatis, menuju rasi bintang yang paling manis *ups, korban
iklan*. Tapi serius, entahlah, kalian pernah kan menyukai lawan jenis
kalian dengan perasaan aneh. Nah, itulah yang terjadi denganku.
Sebagai gambaran namaku Aldi, tubuhku proporsional jika berat
badanku bisa ditambah 8 kg saja. Dengan rambut curly dicukur pendek,
dan wajah oval ditambah kumis rapi plus sedikit jamban, maksutku
jambang. Aku begitu tampan jika dilihat dari ujung kloset. Tahu
pesepakbola tersohor Cristiano Ronaldo?? Iya, aku jauh lebih tampan
dari Bacary Sagna. (Hey, tunggu dulu!! Terus apa hubungan-nya dengan
Cristiano Ronaldo?) Tenang Brada!! Aku gak akan membandingkan
ketampanannya denganku, karena aku cukup sadar diri. Herannya, dengan
segudang pesonaku itu aku selalu gagal mendapatkan cewek idamanku.
Misalnya sewaktu aku kelas tiga SMP, waktu itu pertama kalinya aku
merasakan getaran-getaran aneh saat dekat dengan seorang cewek, namanya
Septa, sudah kusamarkan. Dia masih satu kelas denganku. Singkat
cerita, karena dorongan hormonal remaja dan tuntutan pergaulan. Aku
ingin mendapatkan Septa sebagai pacar. Sewaktu pulang sekolah, aku
menunggunya di gerbang sekolah.
“Ha-Hae.. Septa, aku pengen ngomong bentar boleh?” aku begitu gugup.
Septa tersenyum, menghampiriku.
“Se-Septa.. “ aku masih gugup.
“Iya, ada apa Di ??” ucapnya sambil tersenyum manis.
“Aku.. aku,” dan ternyata aku makin gugup.
“Aldi.. kamu kenapa??” pungkas Septa penasaran.
Dan seperti melihat kereta yang berjalan begitu cepat membelah
kegugupan, mulutku berucap pelan, penuh arti. Lebih tepatnya penuh busa
karena aku sangat gugup gemetaran.
“Aku suka kamu, maukah kamu menjadi pacarku??”
Septa tertawa lebar, sejenak seolah hilang pesona cantiknya.
Dan tiba-tiba aku seperti berada di tengah rel kereta api, aku melihat
kereta tersebut meluncur begitu derasnya ke arahku.
“Haha, ngaca kamu Di!! Sampai kiamat datang besokpun aku gak
mau jadi pacarmu, lagian aku udah punya pacar,” ucapnya kemudian
berlalu pergi dengan seronoknya.
Dan kereta tersebut seolah dengan derasnya menabrak tubuh
kurusku, mataku terkatup, mulutku yang berbusa meniupkan
gelembung-gelembung sabun, kemudian pingsan. Tunggu dulu, dalam
pingsanpun aku berasa masih gugup.
Itulah pertama kalinya aku mengatakan cinta, dan langsung
ditolak secara mentah-mentah, ingin rasanya perasaan cinta-ku itu aku
masak terlebih dahulu sehingga kalau pun sampai di tolak, paling tidak
aku di tolak secara matang-matang. Dan waktu aku menginjak kelas dua
SMA, kembali aku mencintai seorang cewek, namanya boleh aku samarkan
jadi Luna, ini lebih wow lagi karena dia wakil ketua osis di sekolahku.
Pesona dan kecantikannya yang luar biasa menjadikan banyak cowok
tergila-gila padanya, meskipun dia terkenal judesnya minta ampun, serta
cuek banget sama yang namanya cowok. Setahun sudah aku mengamati
gerak-geriknya, dari makanan yang disukainya sampai bedak yang
dipakainya, dari jadwal les sampai jadwal dia ngupil. Bahkan, berapa jam
sekali dia kentut pun tak luput dari analisa ke-detektifan-ku. Ah,
kalau status di facebook dan twitter jangan ditanya, tiap detik, menit,
jam selalu aku ikuti. Maklum, kali ini aku tidak mau gagal untuk kedua
kalinya. Ingat kata Bang Haji, begadang jangan begadang kalau tiada
artinya. (Ah, gak nyambung o’on) Maksutku kata Bang Andrea Hirata,
Kegagalan itu kebodohan yang di pelihara (setuju !!).
Setelah melakukan persiapan yang matang, akhirnya aku
beranikan diri untuk menyatakan cinta ke Luna, disuatu senja yang
mengesankan aku pergi kerumah Luna dengan berbekal ketampananku, boleh
yah kukatakan itu. Udah abaikan, bagaimanapun mata indah Luna dan mata
hati Luna gak buta, dia tahu kadar ketampananku hanya sebatas saat
disamping monyet hamil. Ah, ini begitu sakit, cara Luna menolakku
sangat mengerikan bagiku. Betapa tidak, Aih, jika aku datang kerumahnya
terus dia mau menerimaku jika aku membawa sejuta mawar, aku masih bisa
menerima. Atau aku disuruh membangun candi, ataupun membangun waduk
dalam waktu semalam, akupun masih bisa menerimanya meskipun kuyakin tak
sanggup. Tapi ini, ah, kurasa aku tak mau menceritakannya, ini begitu
sakit. (Ini tisu, kumohon lanjutkan aku jadi penasaran ingin tahu),
Jadi maksudmu kau ingin mengetahui salah satu aib dalam hidupku, hah??
(Tunggu dulu teman, bukan begitu maksudku!! Ayolah.. minimal kamu lega
telah menceritakannya padaku) Baiklah, sampai dimana tadi? Eh, tisu
mana tisunya begok, ini bukan tisu koplak!! Ini pembalut !! (Hahaha,
sengaja!! Makan tuh pembalut).
Intinya penolakan terjadi dengan begitu cepat, aku seperti
tersihir emaknya malin kundang, tubuhku beku seperti batu saat dia
(Luna) berucap lantang,
“Hah, ngaca kamu!! Jangan becanda kamu, Di!! Mana mungkin aku pacaran sama kutu monyet!!”
Tapi tiba-taba tubuhku segar kembali seolah ada yang menyiram segentong air es, saat ada secercah harapan.
“Haha baiklah Di!! Aku mau jadi pacarmu, tapi..”
“Tapi apa Lun, apa?? katakan.. apapun kulakukan demi kamu !!”
“Transplantasi tuh muka, ganti dengan wajah Brad Pitt atau Dude Harlino, gitu”
Glek, aku terkapar hebat. Jelas Luna menolak wajahku secara
mentah-mentah, tapi kali ini dengan segudang kewarasanku, aku gak ingin
memasak dulu wajahku, dan membiarkanya menolak wajahku secara
mentah-mentah.
oO***Oo
Beginilah hidup, terkadang kamu harus menerima kenyataan yang
jauh dari harapan bahkan terkadang juga usaha. Tapi hidup terus
berlanjut, aku terkapar dan kemudian harus bangkit lagi. Apa artinya
ditolak dua cewek yang kita idamkan, ah, itu tak akan menggangu masa
depanku. Aku masih disini dikamar sempit sederhanaku. Sejenak kusisir
rambut curly-ku dengan jemari tangan, kemudian turun kebawah sebentar
untuk menggaruk pantat. Adakah kau disana masih mau membaca
penderitaanku yang ketiga, saat aku mulai duduk di kelas tiga dan akan
menghadapi UNAS serta masih berusaha melupakan penolakan Luna yang
menyakitkan itu. Aku berkenalan dengan seorang cewek imut di warnet.
Wajahnya yang menggemaskan dan begitu manis kurasa. Namanya Dita,
harapanku semoga setelah menceritakanya aku gak DITAmpar olehnya. Hwa..
tapi tidak, aku tidak mau menceritakan ini. Atau kalian akan
mentertawakannya lagi, baiklah.. baiklah.. sebelum kalian memaksaku,
akan ku lanjutkan ceritanya, tapi jujur aku tak sanggup. Biar kalian
tahu dari mulut Dita sendiri, bagaimana?? (Okelah.. aku juga sudah
muak dengan caramu bercerita) Apa maksutmu? Kamu gak suka, (Kalo gak
suka kenapa?? ngajak berantem, apa?) Ayuuuk.. Hah !! (Kamu kira aku
takut? Ayok..) *sensor*
DITA
Abaikan, biarkan mereka berantem. Hari itu, entah kuharap itu
bukan hari sialku. Ketika gemericik air hujan mulai sirna di telan
samar-samar sinar mentari di suatu siang. Aku dan teman-temanku berlari
menuju warnet di sebelah tempat kosku. Kami berlari berebut, berharap
ada bilik yang kosong untuk kami. Ah, aku berlari ketawa-ketiwi dengan
seronoknya, sampai akhirnya terbahak-bahak tepat diujung pintu warnet
ketika aku berhasil mrenyalip kak Dewi, yang lari lebih cepat dari kami.
“Hhaha.. aku duluan,” kurangkul kak Dewi dari belakang. Kak Dewi
menggeliat, “Ah.. curang kau Dit!!”. Sementara dua temanku yang lain
masih berlari dibelakangku. Tanpa kami sadari kegaduhan ini, menimbulkan
banyak mata mengamati kami, termasuk salah satu cowok yang ada tepat
didepanku, sejenak aku terpesona akan sorot matanya yang menatapku
tajam. Aduh, sial sialan, gegara tuh cowok aku lupa untuk segera mencari
bilik yang kosong, sehingga ketiga temanku itu sudah berada pada
bilik-bilik komputer, dan aku kebingungan karena semuanya sudah penuh,
kuhampiri penjaga warnet,
“Mas.. gak ada yang kosong lagi?”
“Waduh.. penuh mbak!!”
“Wah, masih lama gak ??” kutanya, sambil mataku sedikit melirik cowok tadi, dan segera manyun kearah kak Dewi.
Akhirnya setelah beberapa menit terlewat, ada seorang yang
selesai dan akupun melangkah kearah bilik kosong itu, tapi sial, itu
bilik kosong tepat berada di samping cowok tadi, dia kembali
memandangku membuat hatiku deg-degan, sehingga tiba-tiba arah langkahku
berubah kebilik kak Dewi. Sejenak, aku salah tingkah, tapi kemudian
kuberanikan diriku untuk melangkah ke bilik kosong disamping cowok itu.
Aku gemetaran, entah kenapa saat di samping cowok itu aku gemeteran.
Yang membuat aku lebih heran lagi itu cowok senyam-senyum sendiri
sambil jelas dia mencuri-curi pandang kearahku yang membuat aku semakin
gemetaran. Aku membuka facebook pun tak tenang, samar-samar
kudengardia berucap pelan kearahku,
“Sekolah mana mbak, kok hari senin pake seragam pramuka?”
Tapi aku cuek, pura-pura gak denger padahal jelas dia menoleh
kearahku. Ah, tahukah kau cowok jelek, eh tapi gak jelek-jelek amat kok
manis kurasa, hey.. aku pake seragam pramuka karena ada ulangan di
sekolahku, aku masih kelas tiga SMP tahu. Lama-lama aku melihat gelagat
aneh pada dirinya, udah kaya monyet kehabisan kutu saja. Dan tiba-tiba
Deg, hatiku kacau balau, facebook ku di add cowok yang sepertinya
wajahnya gak asing lagi, aduh.. cowok disampingku.
oO***Oo
“Haha.. emang kamu cowok gentle, Di ??”
“Ya iyalah, mau bukti ?”
“Iih.. apaan, mau kenalan aja pake nge-add facebook segala,
padahal jelas-jelas cewek imut dan manis itu di sampingmu, haha.” Aku
tertawa sambil memandang wajah malu Aldi.
“Hheheh.. itu beda lagi, lagian sih kamu manis banget jadi
deg-degan sendiri akunya.” Timpal Aldi sambil menatapku tajam dengan
muka konyolnya.
Kucubit pelan bahunya.
“Dit.. aku mau ngomong serius," dia menatapku lembut dan melanjutkan,
"Maukah kamu jadi pacarku ?? aku sayang kamu Dit !! ijinkan aku ngejaga hari-harimu !!’
Jantungku berdebar hebat, seperti ditubruk gelombang tsunami
tubuh ini. Matanya memandang tajam bola mataku. Kami masih duduk berdua
diatas perahu, di danau indah ini. Airnya yang mengkilaukan pantulan
cahanya matahari di suatu senja yang indah, suara dayung pelan
menimbulkan gemercak air, membentuk pecahan gelombang yang menggerakkan
perahu dan terus mengelilingi danau nan begitu elok. Sejak perkenalan
di warnet itu aku dan Aldi bertukar nomer handphone dan begitulah,
seperti remaja kebanyakan, tukar nomer handphone, sms-an,
telpon-telponan, hingga ketemuan, sudah tiga bulan ini aku sering jalan
bareng Aldi, hingga sampai detik ini, saat dia mengajakku ke danau
wisata ini. sekarang dia mahasiswa sastra di salah satu universitas di
kota kami, dan aku berhasil masuk SMA favorit yang kebetulan adalah
SMAnya Aldi dulu, ah, aku tak peduli dengan perbedaan usia kami,
selama berkenalan dengan Aldi hidupku terasa lebih berwarna, dan aku
merasa nyaman, terlepas dari wajah pas-pasan Aldi, kurasa aku juga
mencintainya.
“Aldi.. aku juga mencintaimu, iya.. aku mau jadi pacarmu !!”
Aldi tersenyum, menggenggam tanganku, kikecupnya dengan begitu
lembut. Aku seperti debu terbawa angin, melayang, membela kerumunan
udara, aku sampai-sampai tak tahu bagaimana perasaanku sendiri, hatiku
seperti bunga bermekaran yang tersengat tawon, tak terasa apa-apa
kecuali madu yang manis, manis sekali seperti senyum tulus Aldi.
SELESAI…
Udah ya segini aja dulu terimakasih.. : )
oh iya yang ngarang ini bukan saya tapi Zacky Mubarok.. peace..