JOMBLO IS ME
Dahulu kala, sebelum bulu kumis tumbuh dan bulu ketek membeludak.
Tak ada perasaan seaneh ini. Perasaan yang selalu mendayung-dayung di
tepian hati. kemudian membawa tubuh berasa terbang dan meluncur bersama
hiu akrobatis, menuju rasi bintang yang paling manis *ups, korban
iklan*. Tapi serius, entahlah, kalian pernah kan menyukai lawan jenis
kalian dengan perasaan aneh. Nah, itulah yang terjadi denganku.
Sebagai gambaran namaku Aldi, tubuhku proporsional jika berat badanku bisa ditambah 8 kg saja. Dengan rambut curly dicukur pendek, dan wajah oval ditambah kumis rapi plus sedikit jamban, maksutku jambang. Aku begitu tampan jika dilihat dari ujung kloset. Tahu pesepakbola tersohor Cristiano Ronaldo?? Iya, aku jauh lebih tampan dari Bacary Sagna. (Hey, tunggu dulu!! Terus apa hubungan-nya dengan Cristiano Ronaldo?) Tenang Brada!! Aku gak akan membandingkan ketampanannya denganku, karena aku cukup sadar diri. Herannya, dengan segudang pesonaku itu aku selalu gagal mendapatkan cewek idamanku. Misalnya sewaktu aku kelas tiga SMP, waktu itu pertama kalinya aku merasakan getaran-getaran aneh saat dekat dengan seorang cewek, namanya Septa, sudah kusamarkan. Dia masih satu kelas denganku. Singkat cerita, karena dorongan hormonal remaja dan tuntutan pergaulan. Aku ingin mendapatkan Septa sebagai pacar. Sewaktu pulang sekolah, aku menunggunya di gerbang sekolah.
“Ha-Hae.. Septa, aku pengen ngomong bentar boleh?” aku begitu gugup.
Septa tersenyum, menghampiriku.
“Se-Septa.. “ aku masih gugup.
“Iya, ada apa Di ??” ucapnya sambil tersenyum manis.
“Aku.. aku,” dan ternyata aku makin gugup.
“Aldi.. kamu kenapa??” pungkas Septa penasaran.
Dan seperti melihat kereta yang berjalan begitu cepat membelah kegugupan, mulutku berucap pelan, penuh arti. Lebih tepatnya penuh busa karena aku sangat gugup gemetaran.
“Aku suka kamu, maukah kamu menjadi pacarku??”
Septa tertawa lebar, sejenak seolah hilang pesona cantiknya. Dan tiba-tiba aku seperti berada di tengah rel kereta api, aku melihat kereta tersebut meluncur begitu derasnya ke arahku.
“Haha, ngaca kamu Di!! Sampai kiamat datang besokpun aku gak mau jadi pacarmu, lagian aku udah punya pacar,” ucapnya kemudian berlalu pergi dengan seronoknya.
Dan kereta tersebut seolah dengan derasnya menabrak tubuh kurusku, mataku terkatup, mulutku yang berbusa meniupkan gelembung-gelembung sabun, kemudian pingsan. Tunggu dulu, dalam pingsanpun aku berasa masih gugup.
Itulah pertama kalinya aku mengatakan cinta, dan langsung ditolak secara mentah-mentah, ingin rasanya perasaan cinta-ku itu aku masak terlebih dahulu sehingga kalau pun sampai di tolak, paling tidak aku di tolak secara matang-matang. Dan waktu aku menginjak kelas dua SMA, kembali aku mencintai seorang cewek, namanya boleh aku samarkan jadi Luna, ini lebih wow lagi karena dia wakil ketua osis di sekolahku. Pesona dan kecantikannya yang luar biasa menjadikan banyak cowok tergila-gila padanya, meskipun dia terkenal judesnya minta ampun, serta cuek banget sama yang namanya cowok. Setahun sudah aku mengamati gerak-geriknya, dari makanan yang disukainya sampai bedak yang dipakainya, dari jadwal les sampai jadwal dia ngupil. Bahkan, berapa jam sekali dia kentut pun tak luput dari analisa ke-detektifan-ku. Ah, kalau status di facebook dan twitter jangan ditanya, tiap detik, menit, jam selalu aku ikuti. Maklum, kali ini aku tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Ingat kata Bang Haji, begadang jangan begadang kalau tiada artinya. (Ah, gak nyambung o’on) Maksutku kata Bang Andrea Hirata, Kegagalan itu kebodohan yang di pelihara (setuju !!).
Setelah melakukan persiapan yang matang, akhirnya aku beranikan diri untuk menyatakan cinta ke Luna, disuatu senja yang mengesankan aku pergi kerumah Luna dengan berbekal ketampananku, boleh yah kukatakan itu. Udah abaikan, bagaimanapun mata indah Luna dan mata hati Luna gak buta, dia tahu kadar ketampananku hanya sebatas saat disamping monyet hamil. Ah, ini begitu sakit, cara Luna menolakku sangat mengerikan bagiku. Betapa tidak, Aih, jika aku datang kerumahnya terus dia mau menerimaku jika aku membawa sejuta mawar, aku masih bisa menerima. Atau aku disuruh membangun candi, ataupun membangun waduk dalam waktu semalam, akupun masih bisa menerimanya meskipun kuyakin tak sanggup. Tapi ini, ah, kurasa aku tak mau menceritakannya, ini begitu sakit. (Ini tisu, kumohon lanjutkan aku jadi penasaran ingin tahu), Jadi maksudmu kau ingin mengetahui salah satu aib dalam hidupku, hah?? (Tunggu dulu teman, bukan begitu maksudku!! Ayolah.. minimal kamu lega telah menceritakannya padaku) Baiklah, sampai dimana tadi? Eh, tisu mana tisunya begok, ini bukan tisu koplak!! Ini pembalut !! (Hahaha, sengaja!! Makan tuh pembalut).
Intinya penolakan terjadi dengan begitu cepat, aku seperti tersihir emaknya malin kundang, tubuhku beku seperti batu saat dia (Luna) berucap lantang,
“Hah, ngaca kamu!! Jangan becanda kamu, Di!! Mana mungkin aku pacaran sama kutu monyet!!”
Tapi tiba-taba tubuhku segar kembali seolah ada yang menyiram segentong air es, saat ada secercah harapan.
“Haha baiklah Di!! Aku mau jadi pacarmu, tapi..”
“Tapi apa Lun, apa?? katakan.. apapun kulakukan demi kamu !!”
“Transplantasi tuh muka, ganti dengan wajah Brad Pitt atau Dude Harlino, gitu”
Glek, aku terkapar hebat. Jelas Luna menolak wajahku secara mentah-mentah, tapi kali ini dengan segudang kewarasanku, aku gak ingin memasak dulu wajahku, dan membiarkanya menolak wajahku secara mentah-mentah.
oO***Oo
Beginilah hidup, terkadang kamu harus menerima kenyataan yang jauh dari harapan bahkan terkadang juga usaha. Tapi hidup terus berlanjut, aku terkapar dan kemudian harus bangkit lagi. Apa artinya ditolak dua cewek yang kita idamkan, ah, itu tak akan menggangu masa depanku. Aku masih disini dikamar sempit sederhanaku. Sejenak kusisir rambut curly-ku dengan jemari tangan, kemudian turun kebawah sebentar untuk menggaruk pantat. Adakah kau disana masih mau membaca penderitaanku yang ketiga, saat aku mulai duduk di kelas tiga dan akan menghadapi UNAS serta masih berusaha melupakan penolakan Luna yang menyakitkan itu. Aku berkenalan dengan seorang cewek imut di warnet. Wajahnya yang menggemaskan dan begitu manis kurasa. Namanya Dita, harapanku semoga setelah menceritakanya aku gak DITAmpar olehnya. Hwa.. tapi tidak, aku tidak mau menceritakan ini. Atau kalian akan mentertawakannya lagi, baiklah.. baiklah.. sebelum kalian memaksaku, akan ku lanjutkan ceritanya, tapi jujur aku tak sanggup. Biar kalian tahu dari mulut Dita sendiri, bagaimana?? (Okelah.. aku juga sudah muak dengan caramu bercerita) Apa maksutmu? Kamu gak suka, (Kalo gak suka kenapa?? ngajak berantem, apa?) Ayuuuk.. Hah !! (Kamu kira aku takut? Ayok..) *sensor*
DITA
Abaikan, biarkan mereka berantem. Hari itu, entah kuharap itu bukan hari sialku. Ketika gemericik air hujan mulai sirna di telan samar-samar sinar mentari di suatu siang. Aku dan teman-temanku berlari menuju warnet di sebelah tempat kosku. Kami berlari berebut, berharap ada bilik yang kosong untuk kami. Ah, aku berlari ketawa-ketiwi dengan seronoknya, sampai akhirnya terbahak-bahak tepat diujung pintu warnet ketika aku berhasil mrenyalip kak Dewi, yang lari lebih cepat dari kami. “Hhaha.. aku duluan,” kurangkul kak Dewi dari belakang. Kak Dewi menggeliat, “Ah.. curang kau Dit!!”. Sementara dua temanku yang lain masih berlari dibelakangku. Tanpa kami sadari kegaduhan ini, menimbulkan banyak mata mengamati kami, termasuk salah satu cowok yang ada tepat didepanku, sejenak aku terpesona akan sorot matanya yang menatapku tajam. Aduh, sial sialan, gegara tuh cowok aku lupa untuk segera mencari bilik yang kosong, sehingga ketiga temanku itu sudah berada pada bilik-bilik komputer, dan aku kebingungan karena semuanya sudah penuh, kuhampiri penjaga warnet,
“Mas.. gak ada yang kosong lagi?”
“Waduh.. penuh mbak!!”
“Wah, masih lama gak ??” kutanya, sambil mataku sedikit melirik cowok tadi, dan segera manyun kearah kak Dewi.
Akhirnya setelah beberapa menit terlewat, ada seorang yang selesai dan akupun melangkah kearah bilik kosong itu, tapi sial, itu bilik kosong tepat berada di samping cowok tadi, dia kembali memandangku membuat hatiku deg-degan, sehingga tiba-tiba arah langkahku berubah kebilik kak Dewi. Sejenak, aku salah tingkah, tapi kemudian kuberanikan diriku untuk melangkah ke bilik kosong disamping cowok itu. Aku gemetaran, entah kenapa saat di samping cowok itu aku gemeteran. Yang membuat aku lebih heran lagi itu cowok senyam-senyum sendiri sambil jelas dia mencuri-curi pandang kearahku yang membuat aku semakin gemetaran. Aku membuka facebook pun tak tenang, samar-samar kudengardia berucap pelan kearahku,
“Sekolah mana mbak, kok hari senin pake seragam pramuka?”
Tapi aku cuek, pura-pura gak denger padahal jelas dia menoleh kearahku. Ah, tahukah kau cowok jelek, eh tapi gak jelek-jelek amat kok manis kurasa, hey.. aku pake seragam pramuka karena ada ulangan di sekolahku, aku masih kelas tiga SMP tahu. Lama-lama aku melihat gelagat aneh pada dirinya, udah kaya monyet kehabisan kutu saja. Dan tiba-tiba Deg, hatiku kacau balau, facebook ku di add cowok yang sepertinya wajahnya gak asing lagi, aduh.. cowok disampingku.
oO***Oo
“Haha.. emang kamu cowok gentle, Di ??”
“Ya iyalah, mau bukti ?”
“Iih.. apaan, mau kenalan aja pake nge-add facebook segala, padahal jelas-jelas cewek imut dan manis itu di sampingmu, haha.” Aku tertawa sambil memandang wajah malu Aldi.
“Hheheh.. itu beda lagi, lagian sih kamu manis banget jadi deg-degan sendiri akunya.” Timpal Aldi sambil menatapku tajam dengan muka konyolnya.
Kucubit pelan bahunya.
“Dit.. aku mau ngomong serius," dia menatapku lembut dan melanjutkan,
"Maukah kamu jadi pacarku ?? aku sayang kamu Dit !! ijinkan aku ngejaga hari-harimu !!’
Jantungku berdebar hebat, seperti ditubruk gelombang tsunami tubuh ini. Matanya memandang tajam bola mataku. Kami masih duduk berdua diatas perahu, di danau indah ini. Airnya yang mengkilaukan pantulan cahanya matahari di suatu senja yang indah, suara dayung pelan menimbulkan gemercak air, membentuk pecahan gelombang yang menggerakkan perahu dan terus mengelilingi danau nan begitu elok. Sejak perkenalan di warnet itu aku dan Aldi bertukar nomer handphone dan begitulah, seperti remaja kebanyakan, tukar nomer handphone, sms-an, telpon-telponan, hingga ketemuan, sudah tiga bulan ini aku sering jalan bareng Aldi, hingga sampai detik ini, saat dia mengajakku ke danau wisata ini. sekarang dia mahasiswa sastra di salah satu universitas di kota kami, dan aku berhasil masuk SMA favorit yang kebetulan adalah SMAnya Aldi dulu, ah, aku tak peduli dengan perbedaan usia kami, selama berkenalan dengan Aldi hidupku terasa lebih berwarna, dan aku merasa nyaman, terlepas dari wajah pas-pasan Aldi, kurasa aku juga mencintainya.
“Aldi.. aku juga mencintaimu, iya.. aku mau jadi pacarmu !!”
Aldi tersenyum, menggenggam tanganku, kikecupnya dengan begitu lembut. Aku seperti debu terbawa angin, melayang, membela kerumunan udara, aku sampai-sampai tak tahu bagaimana perasaanku sendiri, hatiku seperti bunga bermekaran yang tersengat tawon, tak terasa apa-apa kecuali madu yang manis, manis sekali seperti senyum tulus Aldi.
SELESAI…
Sebagai gambaran namaku Aldi, tubuhku proporsional jika berat badanku bisa ditambah 8 kg saja. Dengan rambut curly dicukur pendek, dan wajah oval ditambah kumis rapi plus sedikit jamban, maksutku jambang. Aku begitu tampan jika dilihat dari ujung kloset. Tahu pesepakbola tersohor Cristiano Ronaldo?? Iya, aku jauh lebih tampan dari Bacary Sagna. (Hey, tunggu dulu!! Terus apa hubungan-nya dengan Cristiano Ronaldo?) Tenang Brada!! Aku gak akan membandingkan ketampanannya denganku, karena aku cukup sadar diri. Herannya, dengan segudang pesonaku itu aku selalu gagal mendapatkan cewek idamanku. Misalnya sewaktu aku kelas tiga SMP, waktu itu pertama kalinya aku merasakan getaran-getaran aneh saat dekat dengan seorang cewek, namanya Septa, sudah kusamarkan. Dia masih satu kelas denganku. Singkat cerita, karena dorongan hormonal remaja dan tuntutan pergaulan. Aku ingin mendapatkan Septa sebagai pacar. Sewaktu pulang sekolah, aku menunggunya di gerbang sekolah.
“Ha-Hae.. Septa, aku pengen ngomong bentar boleh?” aku begitu gugup.
Septa tersenyum, menghampiriku.
“Se-Septa.. “ aku masih gugup.
“Iya, ada apa Di ??” ucapnya sambil tersenyum manis.
“Aku.. aku,” dan ternyata aku makin gugup.
“Aldi.. kamu kenapa??” pungkas Septa penasaran.
Dan seperti melihat kereta yang berjalan begitu cepat membelah kegugupan, mulutku berucap pelan, penuh arti. Lebih tepatnya penuh busa karena aku sangat gugup gemetaran.
“Aku suka kamu, maukah kamu menjadi pacarku??”
Septa tertawa lebar, sejenak seolah hilang pesona cantiknya. Dan tiba-tiba aku seperti berada di tengah rel kereta api, aku melihat kereta tersebut meluncur begitu derasnya ke arahku.
“Haha, ngaca kamu Di!! Sampai kiamat datang besokpun aku gak mau jadi pacarmu, lagian aku udah punya pacar,” ucapnya kemudian berlalu pergi dengan seronoknya.
Dan kereta tersebut seolah dengan derasnya menabrak tubuh kurusku, mataku terkatup, mulutku yang berbusa meniupkan gelembung-gelembung sabun, kemudian pingsan. Tunggu dulu, dalam pingsanpun aku berasa masih gugup.
Itulah pertama kalinya aku mengatakan cinta, dan langsung ditolak secara mentah-mentah, ingin rasanya perasaan cinta-ku itu aku masak terlebih dahulu sehingga kalau pun sampai di tolak, paling tidak aku di tolak secara matang-matang. Dan waktu aku menginjak kelas dua SMA, kembali aku mencintai seorang cewek, namanya boleh aku samarkan jadi Luna, ini lebih wow lagi karena dia wakil ketua osis di sekolahku. Pesona dan kecantikannya yang luar biasa menjadikan banyak cowok tergila-gila padanya, meskipun dia terkenal judesnya minta ampun, serta cuek banget sama yang namanya cowok. Setahun sudah aku mengamati gerak-geriknya, dari makanan yang disukainya sampai bedak yang dipakainya, dari jadwal les sampai jadwal dia ngupil. Bahkan, berapa jam sekali dia kentut pun tak luput dari analisa ke-detektifan-ku. Ah, kalau status di facebook dan twitter jangan ditanya, tiap detik, menit, jam selalu aku ikuti. Maklum, kali ini aku tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Ingat kata Bang Haji, begadang jangan begadang kalau tiada artinya. (Ah, gak nyambung o’on) Maksutku kata Bang Andrea Hirata, Kegagalan itu kebodohan yang di pelihara (setuju !!).
Setelah melakukan persiapan yang matang, akhirnya aku beranikan diri untuk menyatakan cinta ke Luna, disuatu senja yang mengesankan aku pergi kerumah Luna dengan berbekal ketampananku, boleh yah kukatakan itu. Udah abaikan, bagaimanapun mata indah Luna dan mata hati Luna gak buta, dia tahu kadar ketampananku hanya sebatas saat disamping monyet hamil. Ah, ini begitu sakit, cara Luna menolakku sangat mengerikan bagiku. Betapa tidak, Aih, jika aku datang kerumahnya terus dia mau menerimaku jika aku membawa sejuta mawar, aku masih bisa menerima. Atau aku disuruh membangun candi, ataupun membangun waduk dalam waktu semalam, akupun masih bisa menerimanya meskipun kuyakin tak sanggup. Tapi ini, ah, kurasa aku tak mau menceritakannya, ini begitu sakit. (Ini tisu, kumohon lanjutkan aku jadi penasaran ingin tahu), Jadi maksudmu kau ingin mengetahui salah satu aib dalam hidupku, hah?? (Tunggu dulu teman, bukan begitu maksudku!! Ayolah.. minimal kamu lega telah menceritakannya padaku) Baiklah, sampai dimana tadi? Eh, tisu mana tisunya begok, ini bukan tisu koplak!! Ini pembalut !! (Hahaha, sengaja!! Makan tuh pembalut).
Intinya penolakan terjadi dengan begitu cepat, aku seperti tersihir emaknya malin kundang, tubuhku beku seperti batu saat dia (Luna) berucap lantang,
“Hah, ngaca kamu!! Jangan becanda kamu, Di!! Mana mungkin aku pacaran sama kutu monyet!!”
Tapi tiba-taba tubuhku segar kembali seolah ada yang menyiram segentong air es, saat ada secercah harapan.
“Haha baiklah Di!! Aku mau jadi pacarmu, tapi..”
“Tapi apa Lun, apa?? katakan.. apapun kulakukan demi kamu !!”
“Transplantasi tuh muka, ganti dengan wajah Brad Pitt atau Dude Harlino, gitu”
Glek, aku terkapar hebat. Jelas Luna menolak wajahku secara mentah-mentah, tapi kali ini dengan segudang kewarasanku, aku gak ingin memasak dulu wajahku, dan membiarkanya menolak wajahku secara mentah-mentah.
oO***Oo
Beginilah hidup, terkadang kamu harus menerima kenyataan yang jauh dari harapan bahkan terkadang juga usaha. Tapi hidup terus berlanjut, aku terkapar dan kemudian harus bangkit lagi. Apa artinya ditolak dua cewek yang kita idamkan, ah, itu tak akan menggangu masa depanku. Aku masih disini dikamar sempit sederhanaku. Sejenak kusisir rambut curly-ku dengan jemari tangan, kemudian turun kebawah sebentar untuk menggaruk pantat. Adakah kau disana masih mau membaca penderitaanku yang ketiga, saat aku mulai duduk di kelas tiga dan akan menghadapi UNAS serta masih berusaha melupakan penolakan Luna yang menyakitkan itu. Aku berkenalan dengan seorang cewek imut di warnet. Wajahnya yang menggemaskan dan begitu manis kurasa. Namanya Dita, harapanku semoga setelah menceritakanya aku gak DITAmpar olehnya. Hwa.. tapi tidak, aku tidak mau menceritakan ini. Atau kalian akan mentertawakannya lagi, baiklah.. baiklah.. sebelum kalian memaksaku, akan ku lanjutkan ceritanya, tapi jujur aku tak sanggup. Biar kalian tahu dari mulut Dita sendiri, bagaimana?? (Okelah.. aku juga sudah muak dengan caramu bercerita) Apa maksutmu? Kamu gak suka, (Kalo gak suka kenapa?? ngajak berantem, apa?) Ayuuuk.. Hah !! (Kamu kira aku takut? Ayok..) *sensor*
DITA
Abaikan, biarkan mereka berantem. Hari itu, entah kuharap itu bukan hari sialku. Ketika gemericik air hujan mulai sirna di telan samar-samar sinar mentari di suatu siang. Aku dan teman-temanku berlari menuju warnet di sebelah tempat kosku. Kami berlari berebut, berharap ada bilik yang kosong untuk kami. Ah, aku berlari ketawa-ketiwi dengan seronoknya, sampai akhirnya terbahak-bahak tepat diujung pintu warnet ketika aku berhasil mrenyalip kak Dewi, yang lari lebih cepat dari kami. “Hhaha.. aku duluan,” kurangkul kak Dewi dari belakang. Kak Dewi menggeliat, “Ah.. curang kau Dit!!”. Sementara dua temanku yang lain masih berlari dibelakangku. Tanpa kami sadari kegaduhan ini, menimbulkan banyak mata mengamati kami, termasuk salah satu cowok yang ada tepat didepanku, sejenak aku terpesona akan sorot matanya yang menatapku tajam. Aduh, sial sialan, gegara tuh cowok aku lupa untuk segera mencari bilik yang kosong, sehingga ketiga temanku itu sudah berada pada bilik-bilik komputer, dan aku kebingungan karena semuanya sudah penuh, kuhampiri penjaga warnet,
“Mas.. gak ada yang kosong lagi?”
“Waduh.. penuh mbak!!”
“Wah, masih lama gak ??” kutanya, sambil mataku sedikit melirik cowok tadi, dan segera manyun kearah kak Dewi.
Akhirnya setelah beberapa menit terlewat, ada seorang yang selesai dan akupun melangkah kearah bilik kosong itu, tapi sial, itu bilik kosong tepat berada di samping cowok tadi, dia kembali memandangku membuat hatiku deg-degan, sehingga tiba-tiba arah langkahku berubah kebilik kak Dewi. Sejenak, aku salah tingkah, tapi kemudian kuberanikan diriku untuk melangkah ke bilik kosong disamping cowok itu. Aku gemetaran, entah kenapa saat di samping cowok itu aku gemeteran. Yang membuat aku lebih heran lagi itu cowok senyam-senyum sendiri sambil jelas dia mencuri-curi pandang kearahku yang membuat aku semakin gemetaran. Aku membuka facebook pun tak tenang, samar-samar kudengardia berucap pelan kearahku,
“Sekolah mana mbak, kok hari senin pake seragam pramuka?”
Tapi aku cuek, pura-pura gak denger padahal jelas dia menoleh kearahku. Ah, tahukah kau cowok jelek, eh tapi gak jelek-jelek amat kok manis kurasa, hey.. aku pake seragam pramuka karena ada ulangan di sekolahku, aku masih kelas tiga SMP tahu. Lama-lama aku melihat gelagat aneh pada dirinya, udah kaya monyet kehabisan kutu saja. Dan tiba-tiba Deg, hatiku kacau balau, facebook ku di add cowok yang sepertinya wajahnya gak asing lagi, aduh.. cowok disampingku.
oO***Oo
“Haha.. emang kamu cowok gentle, Di ??”
“Ya iyalah, mau bukti ?”
“Iih.. apaan, mau kenalan aja pake nge-add facebook segala, padahal jelas-jelas cewek imut dan manis itu di sampingmu, haha.” Aku tertawa sambil memandang wajah malu Aldi.
“Hheheh.. itu beda lagi, lagian sih kamu manis banget jadi deg-degan sendiri akunya.” Timpal Aldi sambil menatapku tajam dengan muka konyolnya.
Kucubit pelan bahunya.
“Dit.. aku mau ngomong serius," dia menatapku lembut dan melanjutkan,
"Maukah kamu jadi pacarku ?? aku sayang kamu Dit !! ijinkan aku ngejaga hari-harimu !!’
Jantungku berdebar hebat, seperti ditubruk gelombang tsunami tubuh ini. Matanya memandang tajam bola mataku. Kami masih duduk berdua diatas perahu, di danau indah ini. Airnya yang mengkilaukan pantulan cahanya matahari di suatu senja yang indah, suara dayung pelan menimbulkan gemercak air, membentuk pecahan gelombang yang menggerakkan perahu dan terus mengelilingi danau nan begitu elok. Sejak perkenalan di warnet itu aku dan Aldi bertukar nomer handphone dan begitulah, seperti remaja kebanyakan, tukar nomer handphone, sms-an, telpon-telponan, hingga ketemuan, sudah tiga bulan ini aku sering jalan bareng Aldi, hingga sampai detik ini, saat dia mengajakku ke danau wisata ini. sekarang dia mahasiswa sastra di salah satu universitas di kota kami, dan aku berhasil masuk SMA favorit yang kebetulan adalah SMAnya Aldi dulu, ah, aku tak peduli dengan perbedaan usia kami, selama berkenalan dengan Aldi hidupku terasa lebih berwarna, dan aku merasa nyaman, terlepas dari wajah pas-pasan Aldi, kurasa aku juga mencintainya.
“Aldi.. aku juga mencintaimu, iya.. aku mau jadi pacarmu !!”
Aldi tersenyum, menggenggam tanganku, kikecupnya dengan begitu lembut. Aku seperti debu terbawa angin, melayang, membela kerumunan udara, aku sampai-sampai tak tahu bagaimana perasaanku sendiri, hatiku seperti bunga bermekaran yang tersengat tawon, tak terasa apa-apa kecuali madu yang manis, manis sekali seperti senyum tulus Aldi.
SELESAI…
Udah ya segini aja dulu terimakasih.. : )
oh iya yang ngarang ini bukan saya tapi Zacky Mubarok.. peace..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar