Rabu, 12 November 2014

cerpen she's my girl friend

SHE'S MY GIRLFRIEND
 
Karya Siti Lika Hanifa

 
 
 
Tok.. tok... tok..
“Za, si Gina udah nungguin kamu tuh !” teriak Mama Reza dengan suara yang sungguh menghibur kuping.
“ia Ma, bentar. Nih lagi pake’ baju !” sahut Reza

Ya, itulah keadaan yang hampir setiap hari terjadi tepat pukul 06.30 saat Gina datang menemui sahabatnya, Reza, yang rumahnya hanya berjarak 5 meter dari rumahnya. Gina, seorang cewek kutu buku dengan body yang bisa dibilang sangat pendek dan kuper, berbeda jauh dengan Reza, cowok populer di sekolah mereka plus seorang model terkenal yang sangat diidolakan semua cewek. Tapi entah kenapa, persahabatan mereka tidak pernah terganggu akan hal itu.
“Za, masa’ tiap hari aku harus nunggu kamu kayak gitu sih ?? kenapa gak sekali-sekali kamu yang datang kerumahku ?” tanya Gina pada Reza saat mereka berada didalam mobil baru milik Reza yang dibelikan papanya saat ulang tahunnya yang ke 17.
“loh, kamu yang salah. Toh juga kalau kamu nggak kerumahku, aku yang bakal kerumahmu” jawabnya
“huh ! terakhir kamu kerumahku untuk nungguin aku kan waktu kelas 5 sd. Kamu kan bangunnya selalu telat” sahut Gina sambil menyetel lagu dengan volume kecil
“ya kalau gitu, apa boleh buat ? hahaha..” balas Reza sambil tertawa lebar dan 3 detik kemudian sebuah buku melayang di kepalanya.
...
She's My Girlfriend
“aku duluan yah, dikit lagi pak Hendra dah masuk, bisa di sembelih aku kalau telat” kata Reza
“ntar ketemu di perpus yah ?” sahut Gina
“ia sayang,,” goda Reza seraya berlalu.
Gina hanya tersenyum melihat tingkah temannya, seandainya aja, kata-kata itu bukan candaan batin Gina lalu segera memasuki kelasnya.

@perpus
“sstt,, Na,, kenapa sih tiap hari kita harus janjian disini ? bosen tau, kenapa gak di kantin aja ?” tanya Reza dengan suara berbisik seraya mengambil sebuah buku dan duduk disebelah Gina
“kan bisa belajar juga Za,, lagian kan ntar juga istirahat kedua kita bisa kekantin kan” jawab Gina sambil membalik halaman buku yang sedang dipegangya
“belajar ? masa’ udah dua tahun kita sekolah disini, hari-harinya cuma berlalu di perpus doang ? kamu mau ngalaihin einsten ? istirahat kedua kan cuma 15 menit,, yuk, ke kantin yuk,, please..” bujuk Reza sambil sesekali melirik Bu Rahma, penjaga perpus.
“ada apa sih ? biasanya juga kan kamu tenang disini”
“ada murid baru, cewek, katanya anak-anak sih cantik”

Gak tahan dengan ocehan si Reza, Ginapun menariknya keluar dari perpus
“gitu dong, liat deh rambutku dah mau botak karena tiap hari nemenin kamu di perpus” kata Reza sambil mengeluarkan senyum terbaiknya, eits.. tapi bukan untuk Gina, melainkan untuk si anak baru yang sedang berdiri di belakang Gina. Reza langsung mengambil langkah panjang menuju si anak baru yang sedari tadi memasang senyum termanisnya dengan memperlihatkan lesung pipinya.
“anak baru yah ?” sapa Reza
“ia..” jawabnya masih dengan senyum mengembang
“pindahan dari mana ?” tanya Reza tanpa mempedulikan Gina yang sudah pergi karena merasa terabaikan
“Bogor..” jawabnya singkat. “eh, cewek tadii....”
“Gina ! temenku.. oh yah, aku Reza, kamu ?” kata Reza yang langsung menyambung pembicaraan anak baru itu seraya mengulurkan tangannya.
“Citra” jawabnya lembut seraya membalas uluran tangan Reza. “kamu, Reza Riandra kan ?” sambungnya
“ia,, kenal sama aku ?” tanya Reza
“ia, kamu kan model terkenal. Dan aku juga model baru di agency kamu.”
Dalam hati Reza girang bukan main, ada cewek secantik Citra yang masuk dalam agency tempat dia bernanung, karena 95% model di tempat itu adalah cowok.
...

Tidak lama setelah perkenalan itu, Reza dan Citra mulai dekat. Gina yang sadar akan hal itupun mulai menjauh dari Reza, bahkan sudah seminggu sejak perkenalan Reza dan Citra, Gina sudah tidak pernah bertemu dengan Reza.
Reza pantas mendapatkan Citra, cowok setampan dan sebaik dia gak pantas selalu berdampingan dengan seorang cewek kuper sepertiku batinnya

Keesokan harinya disekolah, tanpa sengaja Reza dan Gina bertemu dikantin
“Gin ! kemana aja sih kamu ? kok nggak ada kabar ? aku tuh nyariin kamu terus tau ! kamu udah lupa yah sama aku ?” tanya Reza bertubi-tubi seakan dia tak menyadari apa yang sedang dirasakan Gina
“sorry, akhir-akhir ini aku banyak bimbel jadinya sibuk. Kamu nyari aku ?” tanya Gina seraya berbalik menatap Reza
“ya ialah, tapi aku gak pernah ketemu kamu” jawab Reza dengan wajah memelas seakan mulai mengerti penyebab semua ini
“kok nggak ada sms masuk dari kamu yah ? telfon juga gak ada. Rumahku kan dekat dengan rumahmu, kenapa gak datang aja ? alessan aja kamu” sahut Gina seraya membuka buku yang baru dia pinjam dari perpus
“kamu marah sama aku ?” tanya Reza
“gak” jawab Gina singkat sambil terus membaca

Kriiiinnggg...
Bel masuk berbunyi..
“aku duluan yah Za, dah..” kata Gina seraya menutup bukunya dan berlalu tanpa peduli reaksi Reza yang mulai berubah.
....

Sepulang sekolah, Reza menunggu Gina di parkiran berharap gadis itu akan datang menyapanya seperti seminggu yang lalu sebelum dia berubah
“reza !” teriak seseorang

Reza segera membalikkan badannya berharap Gina yang memanggilnya. Tapi harapannya tidak terkabul
“eh, Cit..” sapa Reza
“lagi nunggu siapa ? eh, jalan yuk..” ajak Citra dengan nada manja
“sorry Cit, aku lagi ada urusan..”
“hhmmm.. kok gitu sih ? penting banget yah ?” rajuknya lagi
“ia,, sorry yah,,”
“ya udah deh,, kalau gitu, aku pergi dulu yah ?” kata Citra seraya memegang tangan Reza

Reza hanya mengangguk sembari melepaskan tangannya dan membiarkan gadis cantik itu berlalu kamu cantik Cit, baik pula... tapi maaf, hatiku nggak bisa terbuka untuk kamu..
“Reza, ngapain kamu ? tadi kuliat, Citra udah jalan tuh,,” kata Gina yang tiba-tiba muncul
“aku gak nunggu dia, aku nunggu kamu,, yuk,, aku pengen ngajak kamu ke toko buku.., lagi banyak buku-buku baru lohh..” ajak Reza seraya menarik tangan Gina, tapi Gina langsung melepaskan tangannya.
“maaf.. aku nggak bisa” kata Gina sambil menunduk
“kenapa ? kita kan dah lama gak pulang bareng”
“a.. aku,, aku,, aku lagi ada bimbel... duluan yah !!” kata Gina seraya pergi tanpa mempedulikan teriakkan-teriakkan Reza.
...

Malam harinya, Reza mendatangi rumah Gina. Rumah yang sangat bersahabat dengan dirinya, namun sudah lama tak ia kunjungi.
“malam tante..” sapa Reza pada ibunya Gina
“malam.. eh, Reza, udah lama gak main kesini, masuk dulu gih”
“nggak usah deh tante, cuma mau ketemu Gina sebentar. Ginanya ada ?”
“Gina ? lagi keluar tuh ke toko buku. Tante kira tadi dia pergi sama kamu”
“oh, nggak tante, soalnya tadi aku sibuk. Ada pemotretan. Ya udah tante, aku pergi dulu yah..”
“ia,, hati-hati yah ?”
“ia tante..”

Reza segera menyusul Gina ke toko buku langganan mereka, saat di perjalanan Reza melihat seorang gadis yang sudah tak asing lagi baginya, dengan shirt bertulisan “HE’S MY BEST FRIEND” dan disamping kirinya ada gambar anak panah mengarah ke kiri. Reza tersenyum membacanya, dia teringat 4 bulan yang lalu tepat ulang tahun persahabatan mereka yang ke 9, Reza memberikan Gina shirt itu.
“Gin !” teriak Reza saat keluar dari mobil
“Reza..”
“aku mau ngomong bentar sama kamu..” ajak Reza sembari menarik Gina ke dalam mobil, kali ini dia pastikan genggamannya erat agar Gina tidak melarikan diri lagi
“apa sih ? kamu tuh udah kayak maling tau gak sihh ?” kata Gina sambil meletakkan beberapa buku yang baru dia beli di bawah kakinya
“kamu,, kamu cemburu kan sama Citra ?!!!” teriak Reza seketika
“Reza, apa-apaan sih kamu ?” tanya Gina heran
“Citra emang cantik, bodynya semampai, seorang model, punya segalanya. Sedangkan kamu.. kamu gak cantik, gak seksi, kuper... tapi.. gak tau kenapa, aku,, aku.. aku gak bisa singkirin kamu dari hati aku. Kamu berharga Gin.. aku sayang sama kamu..seminggu aku lalui tanpa kamu, aku gak bisa... aku tetap mikirin kamu walaupun Citra masih disamping aku, aku masih ngerinduin sosok kamu walaupun Citra sedang genggam tangan aku... aku gak bisa kehilangan kamu” tutur Reza
“Reza... maafin aku udah menjauh dari kamu, aku juga sayang sama kamu..” sahut Gina
Malam itu Gina sadar, dia telah membaca banyak buku dan menghafal semua isi dari buku-buku itu, tapi dia belum bisa membaca hati dari seseorang yang menyayanginya dengan tulus dan dia juga belum bisa menghafal semua tanda-tanda kehilangan dari seseorang yang menyayanginya, dan malam ini dia sudah mempelajari itu semua dari Reza.

Reza juga sadar, bahwa cewek yang special bukanlah cewek yang hanya memberinya kepuasan mata, tapi cewek yang special adalah cewek yang tetap terasa keberadaannya walaupun dia sedang menutup mata.

Keesokan harinya, saat berjalan-jalan di toko buku Reza menggunakan kaos berwarna merah dan bertulisan “SHE’S MY GIRLFRIEND” dengan gambar anak panah mengarah kekanan tempat Gina berada.
Norak ? tapi Reza nyaman dengan itu. Bukan nyaman, lebih cocoknya, BAHAGIA..

Jumat, 07 November 2014

cerpen cinta pertama..

MY FIRST LOVE


Hay, perkenalkan. Aku Gabby Fadilla, panggil saja Dilla. Hari ini hari pertamaku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Hey! Apa kau baik-baik saja?” Teriak seseorang. Aku tak mengenalnya. Tapi, mengapa dia menyapaku? Atau setidaknya menegurku?
Aku hanya mengangguk. Yap! Selama orangtuaku bercerai aku tak pernah berbicara. Ayah sangat kasar pada ibu, sehingga ibu meninggalkan ayah. Aku merasa terpuruk dengan keadaan itu hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak berbicara atau membuang kunci mulutku ke dasar laut.

“Sungguh indah pemandangan disini? Mengapa kau tak masuk? Semua -…” tak sempat ia melanjutkan kata-kata nya. Aku sudah duluan meninggalkan nya.

Akhirnya aku menemukan kelasku. Dengan segera aku menuju ke bangku deretan kedua dari belakang. Setelah aku menyimpan tas ku, aku segera duduk memperhatikan sekelilingku. Semua orang tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kebanyakan dari mereka menceritakan kehidupannya masing-masing.

“Hey, kita bertemu lagi!” Ucap pria yang tadi. Ia menyimpan tasnya di laci bangku sebelahku. Kemudian ia duduk.

Anak-anak pun segera duduk di bangku masing-masing karena guru sudah datang. Bu guru itu pun duduk lalu mengambil sebuah buku absen siswa dari tasnya.

“Sejak tadi, kita belum saling mengenal. Namaku Iqbaal” Mengulurkan tangannya, aku hanya terdiam menatap uluran tangannya

“Gabby fadillah!” Kata Bu guru yang ternyata sudah mulai sejak tadi mengabsen kami.

“Wahh, nama yang bagus -…”
Jantungku berdegup kencang, baru kali ini aku dipuji dengan cara memuji namaku.

“Kalau begitu aku panggil kau dengan nama Gabby saja”
Aku menggelengkan kepalaku, ia pun mengerti.

“Kalau Dilla?”
Akhirnya dia tahu, segera ku anggukan kepalaku pertanda iya.

Hari berlalu dengan cepat, kami sudah sangat dekat. Bahkan ada yang bilang bahwa kami itu bersaudara padahal jelas-jelas kami hanya sebagai sebatas sahabat. Tapi, aku menganggapnya lebih dari sahabat.

Hari ini cuaca mendung, tidak seperti biasanya aku pulang bareng Iqbaal. Aku meninggalkannya di kelas karena ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Dan kebetulan cuaca mendung. Segera kulangkahkan kakiku dengan cepat.

“Hey tunggu! Mengapa kau meninggalkanku!” Teriak Iqbaal, dari kejauhan. Lebih tepatnya di belakangku tapi cukup jauh.

Aku terhenti sejenak untuk menunggunya berjalan datang kepadaku.
Saat ia sudah di hadapanku, aku tersenyum melihat ke arah langit.

“Ohh mau hujan yah? Ya udah ayo jalan!” Kami pun melangkahkan kaki kami kembali.
Di tengah perjalanan, ia sedikit berbincang. Tiba-tiba ia menanyakan hal yang tidak pernah kuduga
“Bolehkan aku mendengar suaramu? Setidaknya satu kata saja” Aku kembali terhenti, menatapnya nanar. Sebenarnya aku ingin melakukannya tetapi tidak bisa.
“Aku -…” Ucapku, dengan suara sangat kecil sembari menunduk.
Ia tersenyum “Ayo, kamu mau bilang apa?”
“Aku menyukaimu!” Aku kaget dengan sendirinya, pipiku merah bagaikan tomat yang baru dipetik dari kebunnya. Aku membekap mulutku kemudian berlari.
“Akhirnya kau -…” Lirih Iqbaal

“Bodoh! Mengapa aku mengatakannya?” Perasaanku campur aduk. Senang bisa mengatakannya dan Sedih karna hal ini bisa menghancurkan persahabatanku.

Keesokan harinya, aku sengaja tak menunggunya saat pulang. Aku malu, sangat malu. Aku juga takut dia akan marah padaku akan hal yang kemarin.
Tanpa diduga-duga, dia kembali menghampiriku. Awalnya aku kira dia akan memarahiku, tapi ternyata dugaan ku salah besar.
Dia memelukku dan mengatakan “Aku juga menyukaimu. Aku cinta sama kamu! Kamu mau jadi pacarku?” Aku melepas dekapannya, lalu berkata “Aku mau” Dan aku pun kembali mendekapnya.

Dia adalah MY FIRST LOVE

Senin, 03 November 2014

Cerpen Manis Bikin happy

JOMBLO IS ME




      Dahulu kala, sebelum bulu kumis tumbuh dan bulu ketek membeludak. Tak ada perasaan seaneh ini. Perasaan yang selalu mendayung-dayung di tepian hati. kemudian membawa tubuh berasa terbang dan meluncur bersama hiu akrobatis, menuju rasi bintang yang paling manis *ups, korban iklan*. Tapi serius, entahlah, kalian pernah kan menyukai lawan jenis kalian dengan perasaan aneh. Nah, itulah yang terjadi denganku.

      Sebagai gambaran namaku Aldi, tubuhku proporsional jika berat badanku bisa ditambah 8 kg saja. Dengan rambut curly dicukur pendek, dan wajah oval ditambah kumis rapi plus sedikit jamban, maksutku jambang. Aku begitu tampan jika dilihat dari ujung kloset. Tahu pesepakbola tersohor Cristiano Ronaldo?? Iya, aku jauh lebih tampan dari Bacary Sagna. (Hey, tunggu dulu!! Terus apa hubungan-nya dengan Cristiano Ronaldo?) Tenang Brada!! Aku gak akan membandingkan ketampanannya denganku, karena aku cukup sadar diri. Herannya, dengan segudang pesonaku itu aku selalu gagal mendapatkan cewek idamanku. Misalnya sewaktu aku kelas tiga SMP, waktu itu pertama kalinya aku merasakan getaran-getaran aneh saat dekat dengan seorang cewek, namanya Septa, sudah kusamarkan. Dia masih satu kelas denganku. Singkat cerita, karena dorongan hormonal remaja dan tuntutan pergaulan. Aku ingin mendapatkan Septa sebagai pacar. Sewaktu pulang sekolah, aku menunggunya di gerbang sekolah.

      “Ha-Hae.. Septa, aku pengen ngomong bentar boleh?” aku begitu gugup.

      Septa tersenyum, menghampiriku.

      “Se-Septa.. “ aku masih gugup.

      “Iya, ada apa Di ??” ucapnya sambil tersenyum manis.

      “Aku.. aku,” dan ternyata aku makin gugup.

      “Aldi.. kamu kenapa??” pungkas Septa penasaran.

     Dan seperti melihat kereta yang berjalan begitu cepat membelah kegugupan, mulutku berucap pelan, penuh arti. Lebih tepatnya penuh busa karena aku sangat gugup gemetaran.

      “Aku suka kamu, maukah kamu menjadi pacarku??”

      Septa tertawa lebar, sejenak seolah hilang pesona cantiknya. Dan tiba-tiba aku seperti berada di tengah rel kereta api, aku melihat kereta tersebut meluncur begitu derasnya ke arahku.

     “Haha, ngaca kamu Di!! Sampai kiamat datang besokpun aku gak mau jadi pacarmu, lagian aku udah punya pacar,” ucapnya kemudian berlalu pergi dengan seronoknya.

     Dan kereta tersebut seolah dengan derasnya menabrak tubuh kurusku, mataku terkatup, mulutku yang berbusa meniupkan gelembung-gelembung sabun, kemudian pingsan. Tunggu dulu, dalam pingsanpun aku berasa masih gugup.

      Itulah pertama kalinya aku mengatakan cinta, dan langsung ditolak secara mentah-mentah, ingin rasanya perasaan cinta-ku itu aku masak terlebih dahulu sehingga kalau pun sampai di tolak, paling tidak aku di tolak secara matang-matang. Dan waktu aku menginjak kelas dua SMA, kembali aku mencintai seorang cewek, namanya boleh aku samarkan jadi Luna, ini lebih wow lagi karena dia wakil ketua osis di sekolahku. Pesona dan kecantikannya yang luar biasa menjadikan banyak cowok tergila-gila padanya, meskipun dia terkenal judesnya minta ampun, serta cuek banget sama yang namanya cowok. Setahun sudah aku mengamati gerak-geriknya, dari makanan yang disukainya sampai bedak yang dipakainya, dari jadwal les sampai jadwal dia ngupil. Bahkan, berapa jam sekali dia kentut pun tak luput dari analisa ke-detektifan-ku. Ah, kalau status di facebook dan twitter jangan ditanya, tiap detik, menit, jam selalu aku ikuti. Maklum, kali ini aku tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Ingat kata Bang Haji, begadang jangan begadang kalau tiada artinya. (Ah, gak nyambung o’on) Maksutku kata Bang Andrea Hirata, Kegagalan itu kebodohan yang di pelihara (setuju !!).

      Setelah melakukan persiapan yang matang, akhirnya aku beranikan diri untuk menyatakan cinta ke Luna, disuatu senja yang mengesankan aku pergi kerumah Luna dengan berbekal ketampananku, boleh yah kukatakan itu. Udah abaikan, bagaimanapun mata indah Luna dan mata hati Luna gak buta, dia tahu kadar ketampananku hanya sebatas saat disamping monyet hamil. Ah, ini begitu sakit, cara Luna menolakku sangat mengerikan bagiku. Betapa tidak, Aih, jika aku datang kerumahnya terus dia mau menerimaku jika aku membawa sejuta mawar, aku masih bisa menerima. Atau aku disuruh membangun candi, ataupun membangun waduk dalam waktu semalam, akupun masih bisa menerimanya meskipun kuyakin tak sanggup. Tapi ini, ah, kurasa aku tak mau menceritakannya, ini begitu sakit. (Ini tisu, kumohon lanjutkan aku jadi penasaran ingin tahu), Jadi maksudmu kau ingin mengetahui salah satu aib dalam hidupku, hah?? (Tunggu dulu teman, bukan begitu maksudku!! Ayolah.. minimal kamu lega telah menceritakannya padaku) Baiklah, sampai dimana tadi? Eh, tisu mana tisunya begok, ini bukan tisu koplak!! Ini pembalut !! (Hahaha, sengaja!! Makan tuh pembalut).

      Intinya penolakan terjadi dengan begitu cepat, aku seperti tersihir emaknya malin kundang, tubuhku beku seperti batu saat dia (Luna) berucap lantang,

      “Hah, ngaca kamu!! Jangan becanda kamu, Di!! Mana mungkin aku pacaran sama kutu monyet!!”

      Tapi tiba-taba tubuhku segar kembali seolah ada yang menyiram segentong air es, saat ada secercah harapan.

      “Haha baiklah Di!! Aku mau jadi pacarmu, tapi..”

      “Tapi apa Lun, apa?? katakan.. apapun kulakukan demi kamu !!”

      “Transplantasi tuh muka, ganti dengan wajah Brad Pitt atau Dude Harlino, gitu”

     Glek, aku terkapar hebat. Jelas Luna menolak wajahku secara mentah-mentah, tapi kali ini dengan segudang kewarasanku, aku gak ingin memasak dulu wajahku, dan membiarkanya menolak wajahku secara mentah-mentah.

      oO***Oo


     Beginilah hidup, terkadang kamu harus menerima kenyataan yang jauh dari harapan bahkan terkadang juga usaha. Tapi hidup terus berlanjut, aku terkapar dan kemudian harus bangkit lagi. Apa artinya ditolak dua cewek yang kita idamkan, ah, itu tak akan menggangu masa depanku. Aku masih disini dikamar sempit sederhanaku. Sejenak kusisir rambut curly-ku dengan jemari tangan, kemudian turun kebawah sebentar untuk menggaruk pantat. Adakah kau disana masih mau membaca penderitaanku yang ketiga, saat aku mulai duduk di kelas tiga dan akan menghadapi UNAS serta masih berusaha melupakan penolakan Luna yang menyakitkan itu. Aku berkenalan dengan seorang cewek imut di warnet. Wajahnya yang menggemaskan dan begitu manis kurasa. Namanya Dita, harapanku semoga setelah menceritakanya aku gak DITAmpar olehnya. Hwa.. tapi tidak, aku tidak mau menceritakan ini. Atau kalian akan mentertawakannya lagi, baiklah.. baiklah.. sebelum kalian memaksaku, akan ku lanjutkan ceritanya, tapi jujur aku tak sanggup. Biar kalian tahu dari mulut Dita sendiri, bagaimana?? (Okelah.. aku juga sudah muak dengan caramu bercerita) Apa maksutmu? Kamu gak suka, (Kalo gak suka kenapa?? ngajak berantem, apa?) Ayuuuk.. Hah !! (Kamu kira aku takut? Ayok..) *sensor*

      DITA
     Abaikan, biarkan mereka berantem. Hari itu, entah kuharap itu bukan hari sialku. Ketika gemericik air hujan mulai sirna di telan samar-samar sinar mentari di suatu siang. Aku dan teman-temanku berlari menuju warnet di sebelah tempat kosku. Kami berlari berebut, berharap ada bilik yang kosong untuk kami. Ah, aku berlari ketawa-ketiwi dengan seronoknya, sampai akhirnya terbahak-bahak tepat diujung pintu warnet ketika aku berhasil mrenyalip kak Dewi, yang lari lebih cepat dari kami. “Hhaha.. aku duluan,” kurangkul kak Dewi dari belakang. Kak Dewi menggeliat, “Ah.. curang kau Dit!!”. Sementara dua temanku yang lain masih berlari dibelakangku. Tanpa kami sadari kegaduhan ini, menimbulkan banyak mata mengamati kami, termasuk salah satu cowok yang ada tepat didepanku, sejenak aku terpesona akan sorot matanya yang menatapku tajam. Aduh, sial sialan, gegara tuh cowok aku lupa untuk segera mencari bilik yang kosong, sehingga ketiga temanku itu sudah berada pada bilik-bilik komputer, dan aku kebingungan karena semuanya sudah penuh, kuhampiri penjaga warnet,

      “Mas.. gak ada yang kosong lagi?”

      “Waduh.. penuh mbak!!”

      “Wah, masih lama gak ??” kutanya, sambil mataku sedikit melirik cowok tadi, dan segera manyun kearah kak Dewi.

      Akhirnya setelah beberapa menit terlewat, ada seorang yang selesai dan akupun melangkah kearah bilik kosong itu, tapi sial, itu bilik kosong tepat berada di samping cowok tadi, dia kembali memandangku membuat hatiku deg-degan, sehingga tiba-tiba arah langkahku berubah kebilik kak Dewi. Sejenak, aku salah tingkah, tapi kemudian kuberanikan diriku untuk melangkah ke bilik kosong disamping cowok itu. Aku gemetaran, entah kenapa saat di samping cowok itu aku gemeteran. Yang membuat aku lebih heran lagi itu cowok senyam-senyum sendiri sambil jelas dia mencuri-curi pandang kearahku yang membuat aku semakin gemetaran. Aku membuka facebook pun tak tenang, samar-samar kudengardia berucap pelan kearahku,

      “Sekolah mana mbak, kok hari senin pake seragam pramuka?”

      Tapi aku cuek, pura-pura gak denger padahal jelas dia menoleh kearahku. Ah, tahukah kau cowok jelek, eh tapi gak jelek-jelek amat kok manis kurasa, hey.. aku pake seragam pramuka karena ada ulangan di sekolahku, aku masih kelas tiga SMP tahu. Lama-lama aku melihat gelagat aneh pada dirinya, udah kaya monyet kehabisan kutu saja. Dan tiba-tiba Deg, hatiku kacau balau, facebook ku di add cowok yang sepertinya wajahnya gak asing lagi, aduh.. cowok disampingku.

      oO***Oo

      “Haha.. emang kamu cowok gentle, Di ??”

      “Ya iyalah, mau bukti ?”

      “Iih.. apaan, mau kenalan aja pake nge-add facebook segala, padahal jelas-jelas cewek imut dan manis itu di sampingmu, haha.” Aku tertawa sambil memandang wajah malu Aldi.

      “Hheheh.. itu beda lagi, lagian sih kamu manis banget jadi deg-degan sendiri akunya.” Timpal Aldi sambil menatapku tajam dengan muka konyolnya.

      Kucubit pelan bahunya.

     “Dit.. aku mau ngomong serius," dia menatapku lembut dan melanjutkan,


     "Maukah kamu jadi pacarku ?? aku sayang kamu Dit !! ijinkan aku ngejaga hari-harimu !!’

      Jantungku berdebar hebat, seperti ditubruk gelombang tsunami tubuh ini. Matanya memandang tajam bola mataku. Kami masih duduk berdua diatas perahu, di danau indah ini. Airnya yang mengkilaukan pantulan cahanya matahari di suatu senja yang indah, suara dayung pelan menimbulkan gemercak air, membentuk pecahan gelombang yang menggerakkan perahu dan terus mengelilingi danau nan begitu elok. Sejak perkenalan di warnet itu aku dan Aldi bertukar nomer handphone dan begitulah, seperti remaja kebanyakan, tukar nomer handphone, sms-an, telpon-telponan, hingga ketemuan, sudah tiga bulan ini aku sering jalan bareng Aldi, hingga sampai detik ini, saat dia mengajakku ke danau wisata ini. sekarang dia mahasiswa sastra di salah satu universitas di kota kami, dan aku berhasil masuk SMA favorit yang kebetulan adalah SMAnya Aldi dulu, ah, aku tak peduli dengan perbedaan usia kami, selama berkenalan dengan Aldi hidupku terasa lebih berwarna, dan aku merasa nyaman, terlepas dari wajah pas-pasan Aldi, kurasa aku juga mencintainya.

      “Aldi.. aku juga mencintaimu, iya.. aku mau jadi pacarmu !!”

    Aldi tersenyum, menggenggam tanganku, kikecupnya dengan begitu lembut. Aku seperti debu terbawa angin, melayang, membela kerumunan udara, aku sampai-sampai tak tahu bagaimana perasaanku sendiri, hatiku seperti bunga bermekaran yang tersengat tawon, tak terasa apa-apa kecuali madu yang manis, manis sekali seperti senyum tulus Aldi.




SELESAI…




Udah ya segini aja dulu terimakasih.. : ) 


oh iya yang ngarang ini bukan saya tapi Zacky Mubarok.. peace..

Minggu, 02 November 2014

download zombie highway mod apk




                                                 GAME ZOMBIE HIGHWAY  MOD APK..


Zombie Highway is the most addictive survival game.
 Drive as far as you can.
Drive into the infinite desert highway swarmed with zombie!!
 You don't need to keep on eyes over the obstacles while driving and shooting off the undead horde of zombie to to your car because the obstacles doesn't affect you car.
You can drive as you can.
 This game is FREE for Android. You can download the normal mode of the game through play store.
This is the unlimited Mod of Zombie Highway. You can get everything unlocked with this game.

FEATURES
-Unlimited Ammo
-Unlocked all levels
-Unlocked all weapons
-Unlocked all cars



Download link nya di sini di via zippyshare..
Selamat mencoba.
Have a nice drive and kill the zombie as you can..